K Unri telah mengimplementasikan KBK pada Tahun Ajaran 2007/2008. Saat ini FK Unri telah selesai menjalankan enam blok dari sembilan belas blok yang terdapat dalam KBK dan akan menjalani blok-blok selanjutnya. Pada Tahun Ajaran 2008/2009 FK Unri akan menjalankan dua angkatan mahasiswa untuk mengimplementasikan KBK, sehingga FK Unri memerlukan para tutor dan instruktur tambahan. Oleh karena itu FK Unri telah melakukan pengangkatan para dokter umum untuk dijadikan tutor dan instruktur. Di samping itu masih ada sebagian besar dosen-dosen FK Unri yang belum mendapatkan pelatihan tentang bagaimana implementasi KBK sehingga mereka belum memahami KBK dan implementasinya, maka dirasakan perlu adanya semacam pendidikan dan pelatihan serta represing terhadap implementasi KBK di FK Unri untuk mendapatkan masukan guna perbaikan pelaksaanaan KBK pada blok-blok selanjutnya, terutama sumber daya manusia (tutor dan istruktur), sumber pembelajaran, dan fasilitas pembelajaran yang menunjang pelaksanaan KBK tersebut.

Diklat Implementasi KBK FK Unri bertujuan untuk:

  1. Memberikan pemahaman mengenai kurikulum berbasis kompetensi (KBK)
  2. Memberikan pemahaman kepada dosen bagaimana pembuatan buku blok dan modul

  3. Memberikan pemahaman kepada dosen bagaimana menjadi tutor yang efektif dalam pelaksanaan tutorial PBL

  4. Memberikan pemahaman kepada dosen bagaimana pembuatan buku Skill Lab

  5. Memberikan pemahaman kepada dosen bagaimana menjadi Instruktur yang baik di skill lab

  6. Memberikan pemahaman kepada dosen metode penilaian pada mahasiswa (MCQ, OSCE)

Oleh karena itu maka pada tanggal 15,16 dan 17 Juli 2008, telah dilaksanakan pelatihan inplementasi KBK di FK Unri.

Pengertian SDL bervariasi menurut pendapat beberapa pakar. Knowles (1975, disitasi oleh O’Shea, 2003) mendefinisikan SDL adalah sesuatu proses dimana seseorang memiliki inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, untuk menganalisis kebutuhan belajarnya sendiri, merumuskan tujuan belajarnya sendiri, mengidentifikasi sumber–sumber belajar, memilih dan melaksanakan strategi belajar yang sesuai dan mengevaluasi hasil belajarnya sendiri. Merriam dan Caffarella (1991) mendefinisikan SDL adalah sesuatu metode belajar di mana pelajar mempunyai tanggung jawab yang utama dalam perencanaan, pelaksanakan dan penilaian hasil belajar.

Brockett dan Hiemstra (1991) mengemukakan beberapa pernyataan untuk meluruskan pandangan mengenai SDL yaitu, SDL bersifat kontinuitas, tidak benar SDL mengambarkan suatu proses belajar dalam isolasi, tidak benar SDL menghabiskan lebih banyak waktu daripada kegunaannya, dan tidak benar aktivitas SDL hanya terbatas pada membaca dan menulis.

Contoh Penerapan.

Beberapa waktu yang lalu saya mendiagnosa kebutuhan belajar saya untuk mencari tahu bagaimana cara melakukan adaptasi terhadap instrumen yang menggunakan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Karena saya sudah butuh harus tahu cara adaptasi ini (kebutuhan untuk thesis), lalu saya menetapakan tujuan belajar saya yaitu, mengetahui cara adaptasi instrumen penelitian dari luar. Kemudian saya menyusun strategi belajar untuk mencapai tujuan belajar tersebut. Saya menentukan sumber belajar yaitu internet untuk mencari literatur yang berhubungan dengan cara adaptasi instrumen penelitian dari bahasa luar. Kemudian saya pelajari dengan seksama beberapa artikel yang saya temukan. Saya lakukan critical appraisal terhadap artikel ini. Akhirnya saya telah mengetahui cara adaptasi instrumen penelitian dari bahasa luar. Langkah akhirnya saya mengevaluasi hasil belajar saya tersebut. Untuk mengevaluasi ini saya butuh teman atau guru agar penilaian benar objektif.

Contoh penerapan dalam tutorial PBL

Belajar mandiri tidak hanya terdapat dalam langkah ke enam dari seven jumps. Belajar mandiri sudah dimulai dari langkah pertama dari seven jumps hingga sampai ke langkah tujuh.

Contoh penerapan belajar mandiri dalam pengerjaan skripsi

Belajar mandiri juga dapat dilihat dalam proses pelaksanaan pembuatan skripsi.

Daftar Referensi :

O’Shea, E. (2003) Self-directed learning in nurse education: a review of literature. Journal of Advanced Nursing, 43 (1), pp. 62-70.

Brockett, RG. & Hiemstra, R. (1991) Self Direction in Adult Learning: Perspectives on Theory, Research, and Practice. London and New York: Routledge

Production house untuk KBK

Desember 4, 2008

Penerapan KBK dengan pendekatan PBL dan skill labs sebagai ciri khas yang membedakan dengan kurikulum konvensional memang cukup memakan sumber dana yang besar. Terutama untuk skill labs hal ini sangat dirasakan sekali. Pemenuhan manekin yang berharga mahal lambat laun akan menjadi kendala. Dalam PBL begitu juga, terutama masalah pembuatan buku blok atau buku modul yang memerlukan dana yang besar.

Untuk menyikapi hal di atas dan terinspirasi dari pepatah “sumber dana terbatas, sumber kreativitas dibatasi tak terbatas”, perlu kiranya institusi pendidikan kedokteran mulai berkreativitas dengan membuat

production house, yang menurut saya dibagi dalam tiga divisi.

1. Divisi media cetak. Khusus untuk memenuhi pembuatan buku blok, buku modul, study guide, jurnal ilmiah, dll yang berbau media cetak

2. Divisi audio video, khusus untuk memenuhi pembuatan video simulasi, computer assist learning (CAL), dll yang berbau audio video

3. Divisi bengkel skill lab, khusus untuk memenuhi pembuatan manekin sari yang sederhana sampai yang komplek.